Saturday, December 26, 2015

Tracking Megalithic Sites in the Pasemah Highlands

Tegur Wangi site
Last update: November 24th, 2017

The Pasemah Highlands with its main city Pagaralam, geographically located in Pagaralam district, South Sumatra province - Indonesia. The highlands are famous for the mysterious megalithic remains. Many ancient sites are to be found here surrounded by dramatic highland scenery that provide the jewels of prehistory. The Megalithic monuments were set in place around 3000 years ago, but archaeologists still don’t know why and who erected them. The following Megalithic sites are all within a 20 km/12 mile radius of the main town of the highlands Pagaralam: Tinggi Hari, Atung Bungsu, Tebing Tinggi, and Tegur Wangi site. 

The megaliths are by far the best known archaeological attraction of the Sumatran highlands, and fall into two different styles. The early style dates from almost 3000 years ago and features fairly simple figures squatting with hands on knees or arms folded over chests. The later style, incorporating expressive facial features, dates from about 2000 years ago and is far more elaborate.

In the middle of the plantations you can find stones statues (some take a bit of seeking out) with a variety of shapes, carvings, and sizes. Tegur Wangi site (8 km 5 ml from Pagaralam) has four squat statues that sit under a small shelter, several dolmens (a type of single-chamber megalithic tomb).

Is it necessary to hire a local tour guide to track down the megalithic sites?
Travelling to a new rural area in Sumatra including the Pasemah highlands is not always as fun as the travelogues on websites.  It can be very difficult to find the megalithic sites without a local guide as some sites are "hidden" in the middle of the plantations. It would be wise to hire a local guide if you want to save your time and to reduce language barriers. Besides that, an educated local guide can offer a depth of experience and knowledge to which no guidebook will come even close. If you need a guide and arranged tour to the Megalithic sites and other sites off the beaten track within the Pasemah Highlands, you can contact  Wild Sumatra Tour or Air Langkap Wisata in Bengkulu city, or head to the Pagaralam tourism office in the city of Pagaralam. If you decide to hire a local guide from a hotel in Pagaralam, always ask for proper identification before dealing with him/her.   

One of megalithic remains in Pagaralam
Getting there and around:
There are frequent buses and public vans to Pagaralam from Bengkulu ( 4 – 5 hrs, Rp. 120,000), Lahat (2 hrs, Rp. 25,000), Palembang (5 hrs, Rp. 70,000), Bandar Lampung (9 hrs, Rp. 275,000). There are public transports to the villages near Pagaralam from the town center. Local services cost from Rp. 3,500 to Rp. 10,000.

Hope it helps.

Photos by Adriansyah Putera

Friday, December 18, 2015

Bunga Terbesar Di Dunia - Rafflesia arnoldii

Rafflesia arnoldii, tumbuhan langka, parasit, tanpa akar dan tanpa daun
Click here for the English version of this post
Terakhir di-update 30 Maret 2018

Species yang terancam punah - Selamatkan Rafflesia !!!
Hutan hujan tropis provinsi Bengkulu merupakan suaka baik bagi bunga terbesar di dunia – Rafflesia arnoldii, maupun bunga tertinggi di dunia, yang secara lokal dikenal sebagai bunga Kibut atau bunga Bangkai (nama ilmiahnya Amorphophallus Titanum). Ada sekitar 28 spesies bunga Rafflesia, dan Rafflesia arnoldii merupakan spesies yang terbesar. Bunga Rafflesia arnoldii dapat mencapai diameter hampir satu meter (3 kaki) dan dengan berat bunga hingga 11 kg (24 pon). Kelopaknya tumbuh hingga sepanjang 50 cm (20 inci) dan tebal 2,5 cm (1 inci). Karena kelangkaannya, Rafflesia arnoldii dianggap terancam punah. 

Rafflesia arnoldii yang secara lokal dikenal dengan sebutan “bunga Rafflesia” merupakan salah satu puspa yang dilindungi oleh hukum di Indonesia. Rafflesia arnoldii tumbuhan yang sangat langka dan unik karena tidak memiliki daun, batang atau akar dan bahkan tumbuhan ini tidak memiliki klorofil. Oleh karena itu tumbuhan ini harus hidup sebagai parasit yang menggunakan jaringan tumbuhan merambat Tetrastigma sebagai inangnya untuk mendapatkan nutrisi dan air. Rafflesia arnoldii bukan tumbuhan karnivora, tumbuhan ini sedikit berbau seperti daging busuk hanya untuk menarik perhatian serangga yang kemudian menyerbuki bunga lainnya. Tunas Rafflesia arnoldii butuh berbulan-bulan untuk tumbuh berkembang dan bunganya dapat tetap mekar hingga 14 hari. Rafflesia arnoldii biasanya dapat ditemukan selama musim hujan antara bulan Juni - Desember. Tumbuhan parasit yang sensitif ini tumbuh hanya sekali setahun di hutan hujan tropis primer yang belum terganggu.

Tunas Rafflesia arnoldii perlu berbulan-bulan untuk berkembang
Informasi Sejarah
Rafflesia arnoldii ditemukan oleh Letnan Inggris bernama Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yang telah ditunjuk untuk menjabat posisi Gubernur British Bencoolen (saat ini dikenal sebagai Bengkulu) dan ahli botani Inggris Dr. Joseph Arnold ketika mereka tiba di Lubuk Tapi - Bengkulu Selatan pada bulan Mei 1818. Nama kedua orang tersebut - Raffles dan Arnold – kemudian digunakan untuk memberikan nama botani atau ilmiah untuk tumbuhan tersebut. Rafflesia arnoldii sekarang menjadi simbol resmi provinsi Bengkulu.

Lokasi:
Rafflesia arnoldii, bunga terbesar di dunia dapat ditemukan di banyak kawasan dalam hutan Provinsi Bengkulu, biasanya di Kecamatan Taba Penanjung - Kabupaten Bengkulu Tengah (45 km atau 28 mil dari kota Bengkulu) dan di Tebat Monok Kabupaten Kepahiang, di lereng Pegunungan Bukit Barisan yang paling mudah dicapai karena dekat dengan jalan lintas di pertengahan antara kota Bengkulu dan kota Curup. Rafflesia arnoldii juga dapat ditemukan di beberapa lokasi lainnya di provinsi Bengkulu yaitu:
  • Pagar Gunung – Kabupaten Kepahiang.
  • Talang Ulu, pemandian air panas Suban, dan Taba Rena – Kabupaten Rejang Lebong.
  • dan desa Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan.

Rafflesia arnoldii raksasa yang langka
Informasi Spesies:
Nama lengkap: Rafflesia arnoldii R.Br.
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malpighiales
Famili: Rafflesiaceae
Genus: Rafflesia


Jika Anda ingin menggunakan foto-foto dari blog ini, silahkan email ke kurt_reyhans@yahoo.com

Lokasi pengambilan foto di Taba Penanjung dan Tebat Monok, Provinsi Bengkulu. 
Foto oleh Peter Kimball, Jeff Clairmont, dan Adriansyah Putera.


Anda mungkin tertarik untuk membaca:


Ekstra foto Rafflesia arnoldii
Anda butuh keberuntungan untuk melihat Rafflesia yang sangat langka
Bunga terbesar di dunia - Rafflesia arnoldii
Setelah beberapa hari mekar secarah penuh, bunga unik ini mulai membusuk
Tanpa akar dan daun, bagian yang terlihat hanya bunga


Bunga rimba yang eksotis - Rafflesia arnoldii
Kontak: kurt_reyhans@yahoo.com

Friday, November 27, 2015

Traces of British Colonial Presence on Bengkulu Soil

Last updated: Sep 6th 2018


Bencoolen (now Bengkulu) was one of British colonies in Sumatra. The colonial history of Bengkulu covers the history of European settlements from the start of colonization of Bengkulu in 18th century until Bengkulu integration into Indonesia in 1945. Several British colonial era buildings remain in Bengkulu that will give you greater insight into the former British colonial presence in Bengkulu:


The Fort Marlborough - Breathtaking 18th Century Military Fort
Fort Marlborough is the oldest British surviving building in Bengkulu and now a museum. Located on the shore of Tapak Paderi beach in the city of Bengkulu - Indonesia, the Fort Marlborough is an impressive and well-maintained piece of the colonial history of Bengkulu. This star-shaped fort is definitely worth a visit if you are in Bengkulu.

The Fort Marlborough main gate
The construction of the Fort Marlborough began in 1714 after the abandonment of the Fort York. The fort's construction was conducted under the administration of the Governor of British Bencoolen Joseph Collet. Under British control the fort was used as an EIC trading post and a military base to protect British interests on the West Coast of Sumatra. From 1714 to 1945, possession of the fort had changed several times, amongst four different governments: the Kingdom of Great Britain (1714 – 1824), the Kingdom of France (1760), the Kingdom of the Netherlands (1824 – 1942), the Empire of Japan (1942 – 1945), and the Republic of Indonesia (1945 – present). After hundreds of years of continuous military possession, the fort was deactivated in the late 1980s.

Now, the fort serves as a tourist attraction, museum, and research center. The fort is open daily from 8 a.m - 6 p.m, visitor admission is Rp. 5,000 (about US$ 0.33) for adults and Rp 3,000 (about US$ 0.20) for children (Sep 2018). Click here for more information and photos of the Fort Marlborough!. Or click here to show you exact location of the fort on Google Maps!

The Thomas Parr Monument - In Memory of an Assassinated British Bencoolen Governor

The Thomas Parr monument
The city of Bengkulu has a number of British reminders, including the Thomas Parr Monument which locally known as Tugu Thomas Parr or Tugu Bulek (the Round Monument). The monument was established in 1808 by the British government as for the remembrance of the death of an assassinated British governor in Bencoolen, Thomas Parr. 

Thomas Parr was the son of Dublin-born Lieut-Col. John Parr, 20th regiment of foot, and Sarah Walmesley. The Parr administration of Bencoolen (now known as Bengkulu) was only from April 1805 to December 1807. He was assassinated at night by local fighters on December 23rd, 1807 in his home at Mount Felix. The assassination of Governor Parr was a testament to their refusal to accept colonialism and their defense of their land and rights. Governor Parr was buried within the Fort Marlborough at the Ravelin.

This octagon-shaped monument stands on an area of area of 70 square meters (753 sq ft) and it has a height of 13.5 meters (44 feet). The monument is composed of three arched doorways, a doom and six Corinthian columns in reference to ancient Rome and Greece. The monument is very close from Fort Marlborough, no entrance fee.

Location: at the meeting point of Jl. Ahmad Yani and Jl. Mazairi, in front of the Pasar Baru Koto - Bengkulu. Jl. is abbreviation of jalan which in English means street or road, sometimes written as Jln. Click here to find the location of the monument on Google Maps!


The British Cemetery - The Colonists Endured Hard Times and Great Strife in Bencoolen
The graves in the British Cemetery (Indonesian: Makam Inggris) in Bengkulu are pieces of history that will tell us about bitter conditions and experiences linked to the British East India Company and deaths of hundreds of British Bencoolen inhabitants who were affected by the Bencoolen resistance movements and fatal diseases during the British colonial rule in Bencoolen (now known as Bengkulu).

The remains of British residents who once lived and died in Bencoolen
This site, less than a kilometer east of the Fort Marlborough, was selected by British colonial government as a cemetery location not only to host the graves of British soldiers who fell in the vicinity of various Bencoolen battlefields but also to host the graves of British Bencoolen inhabitants who died from malaria and diarrheal diseases. During the 17th and 18th century, several diseases like malaria, cholera and dysentery were major problems in Bengkulu. These diseases killed more British Bencoolen inhabitants in the 18th century than those that died on the battlefields in Bencoolen.

Although hundreds of British inhabitants died and might be buried in the British cemetery, only a total of 53 graves (the BP3 Jambi report records 128 graves) with some of them unmarked can be found in the British cemetery to this day. When the Dutch controlled Bengkulu, after the Anglo-Dutch treaty signed in 1824, the British cemetery was reused by the Dutch colonial rule as a Dutch burial site. Click here for more detailed information and photos of the British Cemetery.

Location: the cemetery is located at Jl. Veteran or Jl. Rejamat, kelurahan Jitra, kecamatan Teluk Segara Bengkulu. Right behind the gereja HKBP (the Batak Protestant church), across from the Bencoolen coffee house. Show the British Cemetery location on Google Maps.

The Robert Hamilton Monument - Telling Stories of a Time Long Gone

About 2 km from the Fort Marlborough, there is another architectural reminder of former British colonial, the Robert Hamilton Monument (Indonesian: Tugu Robert Hamilton).  This monument is one of the oldest surviving buildings built by British colonial government in Bengkulu. The monument was erected to honor and in memory of Captain Robert Hamilton who died on the 15th of December 1793.

In memory of Captain Robert Hamilton
There is an inscription on the monument wall that says,
"Underneath this obelisk are interred 
the Remains of 
CAPTAIN ROBERT HAMILTON 
who died on the 15th of Dec' 1793 
at the Age of 38 Years 
in the Command of the Troops 
and 
Second Member of the Government"

Location: at the meeting point of Jl. M. Hasan and Jl. Iskandar, near the Pasar Tebek cemetery, Pasar Melintang – Bengkulu. Jl. is abbreviation of jalan which in English means street or road, sometimes written as Jln. Show the monument location on Google Maps.


 This article to be continued...

Photos by Adriansyah Putera and Peter Kimball

Monday, October 26, 2015

Benteng Marlborough Yang Impresif

Gerbang utama benteng Marlborough

Terakhir kali di-update: 23 Juli 2023

Saat berkunjung ke kota Bengkulu untuk liburan atau bisnis, ada banyak obyek wisata yang dapat dikunjungi mulai dari pantai-pantainya yang  indah hingga situs-situs bersejarah yang saling berdekatan dan mudah untuk dicapai. Di sudut pelabuhan tua, benteng Marlborough dapat menjadi suatu media bagi para pengunjung untuk lebih mengenal Bengkulu.

Berada di atas sebuah bukit yang berhadapan dengan Samudra Hindia benteng Marlborough merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Benteng yang berbentuk bintang ini berdiri sebagai peninggalan penjajahan Inggris. Berawal dari tahun 1714 dengan dinding-dindingnya yang berdiri kokoh hingga sekarang, benteng Marlborough  merupakan sebuah penggalan sejarah yang impresif dan terawat dengan baik, benteng ini memiliki reputasi sebagai benteng terkuat yang dibangun oleh Inggris di timur setelah benteng George di Madras (sebuah kota di India Selatan).  Benteng ini memiliki struktur datar dengan 4 bastion berbentuk segitiga yang dirancang untuk saling melindungi antar bastion, dan dikelilingi oleh parit pertahanan.  Gerbang masuk utama menuju benteng dilindungi oleh sebuah ravelin (bangunan pertahanan berbentuk segitiga yang berada di depan kastil atau benteng). 

Selain terdapat beberapa batu nisan Inggris di bagian ravelin yang menceritakan kisah pilu, benteng ini juga menyimpan beberapa ukiran tua, foto-foto tua, salinan korespondensi resmi  dari masa pemerintahan Inggris di Bengkulu (1714 -1824). Di bagian dalam benteng, Anda dapat melihat beberapa meriam antik VOC Belanda abad ke-18, sebuah terowongan yang terhubung dengan bagian luar benteng dan juga ruang tahanan di mana Belanda pernah beberapa saat memenjarakan  Soekarno (yang di kemudian hari menjadi presiden pertama Indonesia) semasa pengasingan beliau di tahun 1939 – 1942.

Benteng Marlborough - sebuah peninggalan kolonial Inggris
Benteng Marlborough buka setiap hari dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore, biaya masuk bagi pangunjung dewasa Rp. 5.000 dan anak-anak Rp. 3.000 per orang (Juli 2023). Benteng Marlborough mudah untuk dicapai, benteng ini terletak di Jl. Ahmad Yani, tepatnya di sebelah kiri pasar Baru Koto dan berhadapan dengan pantai Tapak Paderi. Dari kawasan hotel pantai Panjang, para penganjung bisa naik angkot kuning jurusan Kampung dengan ongkos Rp. 4.000 per orang, atau sekitar 30 menit  jalan kaki untuk sampai ke benteng.

Berwisata ke benteng Marlborough juga memungkinkan para pengunjung untuk menikmati obyek-obyek wisata menarik lainnya yang berada di sekitar kawasan benteng, seperti pantai Tapak Paderi, monumen Thomas Parr, bangunan tua Kampung Cina, dan bangunan residen Inggris yang sekarang digunakan sebagai rumah dinas gubernur Bengkulu. Benteng Marlborough saat ini dianggap sebagai obyek wisata sejarah utama yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke kota Bengkulu. Note: beberapa bagian benteng dapat mempengaruhi tingkat aksesibilitas bagi para penyadang cacat.


Sejarah Singkat Benteng Marlborough

Sejarah Awal (1685 – 1714)
Permintaan pasar akan rempah-rempah yang meningkat di Eropa membuat East India Company (EIC) memperluas kegiatannya di timur dan sebagai hasilnya sebuah pos perdagangan “The Honourable East India Company’s Garrison on the West Coast of Sumatra” didirikan di Bencoolen (sekarang Bengkulu) pada tahun 1685 untuk mendapatkan lada. Pada tahun yang sama, perusahaan EIC membangun sebuah benteng kecil yang dinamakan Fort York dan perusahaan ini juga menyediakan kekuatan militer kecil untuk melindungi properti dan pegawai sipil perusahaan. Karena tingginya angka kematian di benteng York yang disebabkan oleh penyakit seperti kolera, malaria dan disentri, serta semakin memburuknya kondisi benteng York, maka pada tanggal 27 Februari 1712, Joseph Collet yang menjabat sebagai Gubernur British Bencoolen dari tahun 1712 hingga 1717, yang juga menjabat sebagai pimpinan the Honourable East India Company’s Garrison on the West Coast of Sumatra, menulis surat kepada Dewan Direksi EIC di London untuk memperoleh izin mendirikan sebuah benteng baru dan merelokasi pos perdagangan. Joseph Collet diizinkan mendirikan sebuah benteng baru di tahun 1714, dan pada tahun yang sama Fort York ditinggalkan. Setelah Fort York ditinggalkan, benteng ini hancur menjadi puing-puing dan tidak bisa bertahan hingga sekarang.

Pembangunan Benteng Marlborough (1714 -1719)
Salah satu meriam VOC Belanda di benteng Marlborough
Di tahun 1714, setelah pengosongan Fort York, pos perdagangan EIC direlokasi dari Fort York ke Carrang (sekitar 2 mil atau 3,2 km dari Fort York) yang sekarang merupakan sebuah kawasan antara Kebun Keling dan Kampung Cina. Di bawah pemerintahan Joseph Collet, EIC mulai membangun sebuah benteng di sebuah situs militer baru yang strategis. Joseph Collet memberi nama benteng baru tersebut Fort Marlborough untuk menghormati John Churchill, duke pertama Marlborough, salah satu jenderal terbesar Inggris, yang memimpin Inggris dan tentara sekutu dalam memperoleh kemenangan penting atas Louis XIV dari Perancis, terutama di Blenheim (1704), Ramillies (1706), dan Oudenaarde (1708).
   
Konstruksi benteng yang berbentuk bintang dengan bastion berbentuk segitiga di setiap sudutnya dimulai tahun 1714 dengan menggunakan tenaga narapidana, penduduk lokal dan tenaga kerja India. Pekerjaan konstruksi di bulan April 1715 sebagian besar terdiri dari konstruksi awal pada dinding-dinding pertahanan yang menggunakan tanah dan batu bata tebal, parit kering, dan platform meriam di atas bastion. Benteng ini memiliki struktur datar terdiri dari empat bastion berbentuk segitiga yang dirancang untuk saling melindungi satu sama lain, yang mana dua dari bastion tersebut mengarah ke Samudra Hindia di sebelah barat, untuk memberikan perlindungan pada area pendaratan di luar benteng. Pembangunan Fort Marlborough yang juga dikenal sebagai Bencoolen garrison sebagian besar selesai dikerjakan di tahun 1719 dan kemudian benteng ini menjadi pusat kekuasaan dan pengaruh Inggris di berbagai bagian pantai barat Sumatera hingga tahun 1824.

Serangan-serangan Terhadap Benteng Marlborough
Pada tahun 1719, benteng Marlborough ditinggalkan oleh warga Inggris karena banyak terjadinya konflik dengan penduduk lokal di pos-pos EIC dan sebuah serangan terhadap benteng Marlborough, konflik juga memaksa penduduk Inggris untuk melarikan diri ke Madras - India. Tidak lama setelah benteng ditinggalkan, penduduk Inggris kembali lagi ke Bencoolen pada tahun 1724 setelah diadakan sebuah perjanjian dengan para penguasa lokal.

Kiri ke kanan: makam Kapt. Rebert Hamilton,
Gubernur Jendral British Bencoolen Thomas Parr,
dan sekretaris Parr - Charles Muray  
Pada tahun 1760, saat Perang Tujuh Tahun, pasukan ekspedisi Perancis di bawah komando Charles Hector, comte d'Estaing merebut benteng Marlborough dan menggunakan benteng ini sebagai basis untuk menyerang dan menundukkan pemukiman-pemukiman Inggris lainnya di pantai barat Sumatera. Sebelum kembali ke Mascarenes Charles Hector menyerahkan kembali benteng Marlborough kepada Inggris dengan imbalan uang tebusan dari pihak Inggris. Sebuah serangan langsung yang dilakukan oleh penduduk lokal terhadap benteng Marlborough terjadi lagi pada tahun 1793, tapi pasukan pertahanan Inggris mampu menghalau serangan tersebut. 

Sebagai konsekuensi dari Anglo-Dutch Treaty of London, yang ditandatangi pada 17 Maret 1824, pemukiman Inggris di wilayah pantai barat Sumatera diserahkan kepada pihak Belanda yang mengakibatkan terjadinya penarikan pasukan East India Company dari benteng Marlborough dan Bencoolen untuk selamanya di tahun 1825. Penyerahan Bencoolen (sekarang Bengkulu) kepada kekuasaan kerajaan Belanda di bawah Perjanjian Anglo-Dutch menandai akhir dari 140 tahun kekuasaan Inggris di Bengkulu.

Benteng Marlborough setelah Inggris Keluar dari Sumatera
Setelah pasukan East India Company pergi, Belanda mulai mengambil kendali benteng Marlborough di tahun 1825. Belanda memperkuat benteng Marlborough dengan 60 serdadu pada tahun 1837. Belanda terus menduduki benteng hingga tahun 1942. Setelah jatuhnya Sumatera ke tangan Jepang, benteng ini kemudian diduduki tentara Jepang dari tahun 1942 hingga 1945. Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945 benteng ini kembali diduduki sebentar oleh Belanda, dan kemudian benteng ini digunakan oleh tentara dan polisi Indonesia hingga akhir tahun 1970. Benteng Marlborough direnovasi di akhir tahun 1980-an dan kemudian dibuka untuk umum. Sekarang, benteng Marlborough berfungsi sebagai obyek wisata, museum, dan pusat penelitian.


Glosarium

Bastion adalah sebuah struktur dari benteng atau bangunan pertahanan yang dibangun di sudut garis dinding, yang memungkinkan tembakan pertahanan dapat dilakukan dari beberapa arah.

The East India Company (EIC), dikenal juga dengan the Honourable East India Company (HEIC) atau the British East India Company  merupakan perusahaan persekutuan saham Inggris, dibentuk pada 31 Desember 1600 untuk mengejar perdagangan dengan Hindia Timur (atau sekarang Asia Tenggara Maritim) namun pada akhirnya sebagian besar EIC berdagang dengan subkontinen India dan Qing Cina.

Ravelin adalah fortifikasi segitiga atau bagian luar benteng yang terpisah, terletak di depan interior benteng (dinding tirai dan bestion). Awalnya disebut demi-lune, ravelin ditempatkan di luar sebuah kastil dan di seberang tirai fortifikasi.


Referensi:
Britannica Concise Encyclopedia 
http://en.wikipedia.org/wiki/Fort_Marlborough
http://wftw.nl/bencoolen/bencoolen.html

Jika Anda ingin menggunakan foto-foto yang ada di blog ini silahkan email ke kurt_reyhans@yahoo.com

Foto-foto benteng Marlborough

Barak militer Inggris abad ke-18 di benteng Marlborough
Meriam pertahanan ini dirancang untuk bisa menembak dari celah dinding benteng
terhadap kapal-kapal yang mendekati benteng
Bagian sudut kiri bastion dan ravelin benteng Marlborough
Meriam Belanda buatan tahun 1838 di salah satu bastion 
Pemandangan saat sunset dari tangga bastion
Bastion benteng Marlborough yang berbentuk mata anak panah
Dibangun di atas bukit yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia
Benteng Marlborough, objek wisata sejarah utama
yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bengkulu
Batu nisan Deputi Gubernur Richard Watts Esq. (meninggal 17 Desember 1705)
yang berada di bagian ravelin
Batu nisan Deputi Gubernur II George Shaw (meninggal 25 April 1704)
yang berada di bagian ravelin

Benteng Marlborough - Berjalan Melewati Waktu

Foto: Adriansyah Putera & Peter Kimball
Kontak: kurt_reyhans@yahoo.com

Wednesday, October 14, 2015

Lake Mas Bestari - Fun Nature Walks

It offers fun hikes with gorgeous mountain views
This article has been updated on June 29th, 2021
Lake Mas Bestari which has complete name lake Mas Harun Bestari is a small lake located in a nice location where visitors can easily get there from Curup and Lubuk Linggau or to some of the nearby sites they want to visit. The lake is surrounded by gorgeous views of Bukit Barisan Mountains. There are simple -mid range hotels near the lakeside for those who want to escape the city for a night or two. 

Mas Bestari lakeside has some good places to relax for visitors. For those who love hiking, the surrounding area of the lake offers a scenic hike (around 3 km/1.8 miles, easy hike) along the lakeside and the rows of hilly vegetable gardens. Early morning or late afternoon when the air is pleasantly cool is the best time for lakeside walks or hikes. It usually takes around an hour or so to hike around the lake. It is possible for visitors to rent a boat for boating the surroundings of the lake. Also, don’t miss another pleasure, capture beautiful sunrise/sunset images from the lakeside or from one of the surrounding hills! You have to go home with nice images and a smile spreads across your face, post-process your images to produce really sweet images, and then upload them. 

Mas Bestari lakeside at sunrise
Location: It is located at the village of Karang Jaya, Kecamatan Selupu Rejang, Rejang Lebong district. Just go through Jalan Raya Curup – Lubuk Linggau around 18 km (11 miles) from the hill town of Curup, or around 2.5 hours drive from Bengkulu. To show the lake location on Google Maps click here!

Parking fee is Rp. 5,000 (US$ 0.34) for car.






More photos from my trip
Fun early morning hike at Mas Bestari lakeside area
Lake Mas Bestari at sunset

Photos by Adriansyah Putera and Sirly Utama

Wednesday, September 30, 2015

Scorpion Sting

Avoid walking barefoot in places like this
In Bengkulu province and also in most parts of Sumatra, scorpions usually like natural attraction to cool moist areas. They frequently live in lumber or brick piles, and they may be found hiding in dark areas and near mountains.

Scorpions use its venomous sting primarily to subdue insect prey. They also use the sting defensively, readily stinging a predator or the mistakenly placed bare foot. Some scorpions are far more poisonous than others. Scorpion sting symptoms: local pain, burning, small red dot, numbness, tingling, slight swelling.


How to treat a scorpion sting 
To adults, scorpion stings are rarely dangerous. Clean with soap and water, then take aspirin or acetaminophen and if possible put ice on the sting to help calm the pain. For the numbness and pain that sometimes last days or weeks, hot compresses may be helpful. To children under 5 years old and those who are allergic to the venom scorpion stings can be dangerous, especially if the sting is on the head or body. If the child who was stung is very young or has been stung on the main part of the body, or if you know the scorpion was of a deadly type, seek medical help fast.

If you are stung by a scorpion and then you experience trouble focusing eyes, random eye movements, trouble swallowing, drooling, tongue feels swollen, slurred speech, dizziness, blurry vision or muscle twitching go to the nearest emergency room immediately. These symptoms should only occur if you are stung by a very dangerous scorpion or are allergic to the venom of the scorpion.

New born scorpions have venom so do not underestimate their size!!!