Showing posts with label Bengkulu Province. Show all posts
Showing posts with label Bengkulu Province. Show all posts

Monday, January 23, 2017

Gunung Kaba, Suaka Bagi Hiker Di Provinsi Bengkulu

Pemandangan kawah belerang gunung Kaba
Artikel ini terakhir di-update 26 Juni 2021
For the English version click here!

Gunung Kaba atau yang juga biasa disebut bukit Kaba oleh penduduk setempat, memiliki panorama yang indah dan alami dengan temperatur udara yang moderat, gunung ini menawarkan pengalaman inspiratif bagi mereka yang memiliki hobby trekking atau mendaki gunung untuk menikmati pemandangan hutan tropis plus kawah belerang yang spektakuler dan unik. Gunung Kaba merupakan gunung berapi aktif yang berada di dalam kawasan Konservasi Wisata Alam Bukit Kaba yang memiliki luas area13.490 hektar dan diusulkan untuk pengembangan pariwisata di provinsi Bengkulu. 

Pendakian ke gunung Kaba menawarkan petualangan, semangat hiking, dan tantangan fisik melewati pemandangan hijau yang mempesona. Di bagian puncak gunung, terdapat tiga kawah – bukit Kaba (1.952 m / 6.404 kaki), bukit Itam (1.893 m / 6.211 kaki) and bukit Malintang (1.713 m / 5.620 kaki), dua dari tiga kawah tersebut masih aktif. Saat Anda mendaki punggung gunung Kaba Anda dapat mencium bau belerang, ini bukti bahwa kawah-kawah tersebut masih aktif. Nikmati pemandangan spektakuler di sekeliling Anda. Uap tidak henti-hentinya keluar dari 12 retakan tanah, dan sejumlah mata air panas (tidak layak untuk diminum) dapat ditemukan di sekitar kawasan bukit Kaba. 

Pendakian menuju puncak gunung Kaba
PENJELASAN TRACK 
Pendakian ke bukit Kaba dapat ditempuh dari berbagai arah, tapi dua rute yang paling populer yaitu jalur reguler/jalur jalan aspal yang dimulai dari depan pos POKDARWIS dengan menelusuri jalan aspal hingga ke puncak, dan kemudian jalur hutan yang dimulai dari belakang pos POKDARWIS. Para pengunjung diwajibkan untuk melapor dan mengisi buku tamu di pos POKDARWIS sebelum pendakian dimulai. Biaya masuk Rp. 100.000 (sekitar US$ 6,92) untuk wisatawan asing dan Rp. 11.500 (sekitar US$ 0,80) untuk wisatawan domestik, plus asuransi jiwa Amanah Githa untuk satu kali kunjungan sebesar Rp. 1000 (US$ 0.069). Bagi para pengunjung yang ingin berkemah beberapa hari di sekitar puncak gunung, mereka akan dikenakan biaya tambahan. Ada beberapa tempat parkir sederhana di dan di sekitar pintu masuk pos POKDARWIS untuk akses dan kemudahan bagi pengunjung yang ingin menitipkan sepeda motor atau mobil mereka untuk hanya beberapa jam atau bahkan berhari-hari. Biaya parkir Rp. 5.000 (sekitar US$ 0,35) untuk sepeda motor, dan Rp. 20.000 (sekitar US$ 1,38) untuk mobil. Waktu yang baik untuk mendaki Gunung Kaba yaitu di musim kemarau antara bulan Juni – September.
  

Opsi Jalur Reguler
Durasi pendakian: 1 jam 45 menit hingga 3 jam pendakian
Jika pendakian dimulai di pintu masuk pos POKDARWIS, biasanya memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke puncak melalui jalur reguler jika Anda merasa energik. Ikuti saja jalur jalan aspal, jalur tersebut akan menuntun Anda hingga ke puncak. Durasi hiking tergantung pada kecepatan langkah kaki Anda, kondisi cuaca, dan seberapa sering Anda berhenti untuk beristirahat dan melihat-lihat pemandangan. Durasi yang kami berikan untuk opsi jalur regular adalah perkiraan, karena semua orang berjalan pada kecepatan yang berbeda-beda. Anda sangat disarankan untuk mengambil jalur reguler jika Anda melakukan pendakian di saat/setelah hujan. Saat musim hujan durasi pendakian bisa menjadi lebih lama.

Opsi Jalur Hutan
Anda dapat menempuh rute jalan setapak melalui hutan untuk melihat pemandangan yang lebih indah dan merasakan sensasi trip petualangan. Hiking melalui jalur hutan juga dapat lebih menghemat waktu tempuh dan tenaga Anda dibandikan hiking melalui jalur reguler, tapi jalur hutan ini sangat beresiko jika Anda tidak familiar dengan tracknya dan mencoba melakukan pendakian seorang diri, Anda bisa tersesat di hutan. Para pengunjung yang belum pernah melewati jalur hutan disarankan untuk menyewa pemandu atau ikut mendaki bersama kelompok pendaki lain yang berpengalaman. Anda dapat menyewa seorang pemandu di Pos POKDARWIS dengan tarif Rp. 75.000 (sekitar US$ 5,19). Hati-hati dengan kondisi jalan setapak dan tebing yang licin dan mudah longsor. Jangan ambil jalur hutan di saat/setelah hujan, lebih baik menghindari resiko dari pada Anda menyesal kemudian. 

Butuh tumpangan sepeda motor ke puncak?
Anda harus dalam kondisi bugar untuk mendaki gunung Kaba. Jika Anda tidak yakin bahwa Anda cukup kuat untuk mendaki, Anda bisa naik ojek dari pos POKDARWIS dengan tarif Rp. 60.000 (sekitar US$ 4,15). Untuk menghindari penipuan tarif jasa ojek dari orang-orang yang menawarkan jasa ojek, sebaiknya Anda membuat dan memastikan kesepakatan tarif jasa dengan tukang ojek terlebih dahulu sebelum Anda menaiki sepeda motornya dan bayar hanya jika Anda telah sampai di puncak gunung.

Kawah belerang gunung Kaba
Info Tambahan Gunung Kaba:
Elevasi puncak: 1.952 m (6.404 kaki)
Koordinat: 3.52 S, 102,62 E
Tipe gunung: stratovolcano (gunung berapi kerucut/komposit)
Erupsi terakhir: 26 -27 Agustus 2007

Lokasi: Dusun Sumber Urip, kabupaten Rejang Lebong, provinsi Bengkulu. Untuk menemukan lokasi gunung Kaba di Google Maps klik di sini!

Petunjuk lokasi secara umum: Gunung Kaba berada sekitar 19 km (11,8 mil) dari Curup ibukota kabupaten Rejang Lebong atau sekitar 104 km (64,7 mil) dari kota Bengkulu. Dibutuhkan waktu sekitar satu jam berkendara dari Curup, 20 menit berkendara dari Simpang Pasar / Simpang Bukit Kaba, atau sekitar 3,5 jam perjalanan dari Bengkulu untuk sampai ke pintu masuk pos POKDARWIS.

Wisatawan asing sedang menikmati pemandangan kawah
Ayo Dukung Responsible Tourism!!
Jika Anda akan bermalam di puncak gunung Kaba (secara lokal dikenal juga dengan nama bukit Kaba) jangan lupa membawa kompor sehingga Anda tidak perlu menguras pasokan kayu bakar yang terbatas. Ketergantungan pada kayu bakar untuk keperluan memasak dapat menyebabkan terjadinya deforestasi/penggundulan hutan yang cepat. Jika Anda terpaksa menyalakan api, gunakanlah perapian yang sudah ada. Gunakan hanya cabang atau ranting pohon yang sudah mati. Pastikan bahwa Anda benar-benar memadamkan api setelah digunakan. Jangan meninggalkan sampah-sampah Anda dan pastikan orang lain di kelompok Anda melakukan hal yang sama. Mari kita dukung "Resposible Tourism" (Pariwisata yang Bertanggung Jawab)!!!!



Jangan gunakan foto-foto dari blog ini untuk tujuan apapun tanpa izin dari saya. Jika Anda ingin menggunakan foto-foto di blog ini silahkan email ke kurt_reyhans@yahoo.com 


Ekstra foto dari gunung Kaba


Gunung Kaba menawarkan jalur trekking yang menakjubkan 
"Gunung-gunung sedang memanggil, dan saya harus pergi." - John Muir


Gunung Kaba dikelilingi oleh lautan topografi hijau 
Menikmati pesona pemandangan gunung Kaba
Puncak gunung Kaba yang berkabut
Hiking bersama keluarga
Puncak gunung Kaba mengepulkan uap panas
Perhatikan dan puaskan sisi petualangan mu di gunung Kaba!
Pendakian Gunung Kaba - bersama kita bisa

Kontak: kurt_reyhans@yahoo.com
Foto: Adriansyah Putera, Peter Kimball, Jeff Clairmont 
Referensi tambahan: John Seach. “Kaba Volcano”. http://www.volcanolive.com/kaba.html


Tuesday, January 3, 2017

Tips for Traveling on Rainy Sumatra Days

Mount Kaba hike

You will encounter iffy weather if you visit Bengkulu province or other provinces of Sumatra during the rainy season. In Bengkulu province and its neighboring provinces including South Sumatra & Lampung province, the rains normally start from October to March (peaking in December - February) slightly later than the north parts of Sumatra. The weather is still hot and more humid in the coastal areas, but at higher elevations tend to be cooler.

Traveling in Bengkulu province during the rainy season especially within the wettest months December – February can be very challenging and inconvenient for most travelers. The December to February rains can come in sudden tropical downpours, and or it can also rain nonstop for a whole day. If you want to go backpacking to try a rainy season escape or a very adventurous trip that many travelers miss out on, perhaps in the rural or mountainous areas, it will require not only willpower but also preparation and a lot of patience. Make sure you carefully plan what to wear on a rainy day and bring the right gears. Here are some important tips from real travelers and my own experiences for traveling on rainy Sumatra days:

General rules: planning and preparation are half the battle. 
First identifying which regions you want to visit & stay, what you want to do and how long you want to travel before packing for your trip to Bengkulu province to get a greater understanding of what will be needed.

Suggested items to bring

Going rural
  • A light waterproof rain jacket (heavy plastic raincoat might be too warm to wear in the coastal areas).
  • Four of five t-shirts should be enough. The weather at higher elevations tend to be cooler, you can layer t-shirts for warmth instead of strictly winter clothes. You can buy extra t-shirts at low prices in many places in Sumatra if you need more, but if you are a big and tall person it will be very difficult to find plus size t-shirts. 
  • Two or three pairs of convertible long pants for backpacking, hiking or for any outdoor activity you may partake in. They can keep you warm when the temperature drops and can be turned into a stylish pair of shorts when the temperature bubbles up. 
  • An emergency kit. It can help with some unpleasant situations that arise while on the travel trail, especially if you plan on hiking or going rural. It can be adapted to your needs, type and length of travel, and destinations. The basic emergency kit should include at least the following items:
    1. First aid kit & enough medication for your entire stay. It is best to keep your medications in their original containers with clear labels, officials at ports of entry may require proper identification of medications.
    2. Ready-to-eat canned food and drinking water.
    3. Cellular phone.  We suggest you to bring a cellphone or buy a cheap cellphone and a local SIM card in Indonesia for your communication needs.
    4. Multipurpose utility tool like a Swiss army knife.
    5. A flashlight, the waterproof one is recommended. Power outages are frequent in Sumatra during thunder storms. 
➤ Don’t bury your emergency kit at the bottom of your travel bag. Keep it handy in case of an emergency.
  • Sturdy hiking boots for going rural or hiking.
  • Waterproof bags and zip lock bags (for use in protecting your camera equipment, electronic devices, travel documents, emergency kit, etc).
  • A folding umbrella.
  • Extra socks to wear while wearing shoes/hiking boots.
  • Sandals/flip flops.
  • An extra towel. It almost always comes in useful! 
  • Rainy season is also mosquito season, so don’t forget to bring mosquito repellent and anti malaria tablets especially if going rural.  Recommendations for suitable drugs to prevent malaria can be found at www.cdc.gov/malaria/travelers/drugs.html
  • Locks for your luggage, it’s better to be safe than sorry.
We greatly recommend that you go through a final checklist once you think you have got all items with you.

Packing
Don’t bury things you needs such as emergency kit, extra clothes, or drinking water at the bottom of your backpack or travel bag. If you are going to go backpacking, your backpack has to be balanced or you could fall over. Don’t make your pack too heavy at the top or bottom, it’s best to keep the heaviest items close to your back. Access and balance are the keys to packing well. 

That is all that we can write. Remember that a Sumatra escape or adventurous trip during the rainy season is only suitable for those who enjoy slow travel and don’t mind stopping for one or more days due to weather disruptions.

Tips for driving safely on rainy Sumatra days, click here!

Tuesday, December 27, 2016

Driving Safely on Rainy Sumatra Days

Rainy weather road trip
This article has been updated on October 6th, 2018

     If you’re planning to drive in Bengkulu province or other areas of Sumatra this rainy season there may be more needed than a full tank of fuel. Roads in much of Sumatra are not great and can be more difficult in the rainy season. Potholes, slippery and poorly visible roads are often the causes of many road accidents during the rainy season. We list some important tips to minimize accident risks for your rainy weather road trip.

Safety starts before you drive. Here's what you can do before you hit the road:
  • Give yourself extra time to check traffic, road and weather conditions before you go. It's also recommended to regularly check them for long distance driving. 
  • Check brakes, steering, and fluid levels. 
  • Make sure that headlights, turn signal lights, brake lights and windshield wipers are clean and functioning properly.
  • Check tread depth. Worn tires especially bald ones can be deadly on wet roads. It is widely accepted that tires should be replaced if the remaining tread depth is down to approx 1.6 mm (2/32 inch tread depth). This minimum tread depth standard is adopted by many of the world’s national transportation authorities. 
    Tire pressure label 
  • Check tire pressure, and also make sure that your spare tire is properly inflated. Many times people ignore their spare tire until they have a flat, and then find the spare tire is flat too. Keep in mind that many vehicles have different tire pressures on the front and rear axle. Recommended tire pressure is usually shown on a label attached to inside of the driver side door, doorpost, or glove box door. 
  • Prepare an emergency kit and keep it in the car, you never know when something's going to happen to you or your car. The basic emergency kit should include the following items:
    1.  First aid kit
    2.  Car tool kit
    3.  Food and drinking water.
    4.  Flashlight. Waterproof flashlight is recommended. 
    5.  Jumper cables. 
    6.  Multipurpose utility tool like a Swiss army knife.
    7.  Two reflective warning triangles

Safe Driving in the Rain
The Sumatra rainy season often brings heavy rain and often means flooded roads, a few rain drops can quickly develop into a heavy downpour. Here's what you can do to have a safe drive during the rains & thunderstorms:
  • Maintain safe following distance.  The 3-second rule needs to be increased to at least 5 seconds as wet roads can double stopping distances. 
  • Turn on your windshield wipers to keep your windshield clear. 
  • Rain can cause windshield and windows to fog up quickly. If your windshield and windows fog up, turn on the air conditioning and open the windows a little bit if necessary to increase the airflow. In a car without AC, a rag or piece of clothing will work as well, you'll just need to clear the windshield and the window more often. 
  • Turn on your headlights even in a light rain, or in gloomy, foggy conditions. They not only help you see the road but also help other drivers see you. 
  • Avoid excessive or sudden braking. It’s best to apply the brakes smoothly and gradually before coming to a complete stop. If you push the brake pedal to the limit, the car will probably skid. 
  • Don't follow large trucks or buses too closely, they tend to kick-up a lot of spray which can reduce your vision. Take care when passing them as well, if you must pass, do it quickly and safely.
  • Go slow when driving through a puddle of uncertain depth. If it is deeper than the bottom of your doors, turn around and find another route. Deep water can cause serious damage to a modern car's electrical system. 
  • When stuck in the mud, shift into 1st or 2nd gear and accelerate slowly. Don’t spin the wheels, or you could sink deeper.
  • When visibility is so limited that the edges of the road or other vehicles cannot be seen at a safe distance, it is time to pull over and wait for the rain to ease up. If the roadside is your only option, pull off as far as possible and wait until the storm passes.
Bengkulu - Kepahiang road condition

Flood Hazards
Many areas within Bengkulu province are considered to be at low to moderate risk of flooding. Floods can occur in Bengkulu province and the neighboring provinces as a result of heavy rainfall for a prolonged length of time. Take extra care when driving through these following areas which are prone to flooding:
  • Bengkulu city: Bentiring, Rawa Makmur, Semarang, Surabaya Permai, Tanjung Agung, and Tanjung Jaya.
  • Seluma district: Jenggalu, Cahaya Negeri, Air Periukan, Sukaraja, Seluma, Talo, and Semidang Alas Maras.
  • South Bengkulu district: Pasar Manna, Manna, and Ulu Manna.
  • Kaur district; Kaur Selatan (South Kaur), Nasal, Simidang Gumay, Tanjung Iman, Tetap, Luas and Maje.
  • Rejang Lebong district: Sindang Kelingi, Air Dingin, Bermani Ulu, Curup, Selupu Rejang, and Padang Ulak Tanding.
  • Kepahiang district: Bermani Ilir, Merigi, Ujan Mas, and Kepahiang.
  • Lebong district: Lebong Utara (North Lebong), Uram Jaya, and Pelabai.
  • Central Bengkulu district: Karang Tinggi, Taba Penanjung and Pondok Kelapa.
  • North Bengkulu district: Lais, Batik Nau, Ketahun, Air Besi, Putri Hijau and Marga Sakti.
  • Mukomuko district: Pulau Makmur, Ipuh, Arah Tiga, Lubuk Pinang.
Hope it helps and stay safe!!!


Photos by Adriansyah Putera

Sunday, October 30, 2016

Lake Suro Offers Scenic Places to Paddle and Explore

Lake Suro in the late afternoon
This post has been updated on July 14th 2018

     As Kepahiang district is still struggling to warm up, it looks more and more inviting as one of road trip gateways in Bengkulu province which is filled with beautiful and fascinating natural features. When visiting Kepahiang district for one day or more, you must include at least a visit to the lake Suro. The lake Suro (locally known as danau Suro) is truly one of the hidden gems in Kepahiang district. There is so much natural beauty around the lake Suro has to offer, whether you want to just wind down and soak up the views or enjoy some of the outdoor activities on and off the water. 

Fun Things to Do
     For an interesting and fun experience of the lake Suro life and its surrounding rainforests, try to visit here either early or late in the day. If you just want to enjoy the attractive natural surroundings from water, take a refreshing river raft tour for Rp. 10,000 per person (about US$ 0.70 - July 2018) from the dock near the entrance. If you love kayaking, bring your kayak along, the lake Suro which also known as “Wisata Musi Indah” offers scenic places to paddle and explore. Don’t forget to take your camera to capture your personal experience, the lake and river activity. 

A hanging bridge to the off the beaten path hikes
     Tired of visiting water-based attractions? Try some of the off the beaten path hikes! For those who love hiking and nature walk, the villages and the surrounding forests near the lake Suro offer fun nature walks which will allow you to touch and look at the beauty of nature, and develop a strong connection with the local natural environment as you walk along the trails. Keep in mind that many of trails are rather challenging and it is recommended to take a guide or a GPS for hikers who want to venture into the forest interior. Ask the guards or the small restaurant owner near the main entrance if you need a guide.

Entrance & Parking Fee
     There is a per vehicle entrance and parking fee, Rp. 5,000 (about US$ 0.35) for a motorcycle and Rp. 10,000 (about US$ 0.75) to Rp 20,000 (about US$ 1.39) for a four- (or more) wheeled vehicle depending on the number of passengers. Legal permits are not required for regular noncommercial day hikes.

Warning: visitors need to be careful when trying to cross the hanging bridge near the entrance as the walkway is poorly maintained, there are too many broken planks. Take a guide for hikers who want to venture into the forest interior! 

Location: the lake Suro is near the Musi Ujan Mas hydroelectricity plant about 16 km (10 mi) from the city of Kepahiang or about 70 km (43 mi) from Bengkulu city. Find the Danau Suro location on Google Maps.

The lake Suro and its surrounding rainforests

     Hope this post can help you plan your trip and get an idea about one of the places you should think about exploring in Kepahiang district. Happy travels!!!!!

Let’s help each other!
     Let’s make this post available in various languages! Translating this post can help more readers in your language to understand this post. If you would like to translate this post into your language or if you need help to translate some of your posts into Indonesian, please send me an email to kurt_reyhans@yahoo.com

Text and photos by: Adriansyah Putera

Friday, December 18, 2015

Bunga Terbesar Di Dunia - Rafflesia arnoldii

Rafflesia arnoldii, tumbuhan langka, parasit, tanpa akar dan tanpa daun
Click here for the English version of this post
Terakhir di-update 30 Maret 2018

Species yang terancam punah - Selamatkan Rafflesia !!!
Hutan hujan tropis provinsi Bengkulu merupakan suaka baik bagi bunga terbesar di dunia – Rafflesia arnoldii, maupun bunga tertinggi di dunia, yang secara lokal dikenal sebagai bunga Kibut atau bunga Bangkai (nama ilmiahnya Amorphophallus Titanum). Ada sekitar 28 spesies bunga Rafflesia, dan Rafflesia arnoldii merupakan spesies yang terbesar. Bunga Rafflesia arnoldii dapat mencapai diameter hampir satu meter (3 kaki) dan dengan berat bunga hingga 11 kg (24 pon). Kelopaknya tumbuh hingga sepanjang 50 cm (20 inci) dan tebal 2,5 cm (1 inci). Karena kelangkaannya, Rafflesia arnoldii dianggap terancam punah. 

Rafflesia arnoldii yang secara lokal dikenal dengan sebutan “bunga Rafflesia” merupakan salah satu puspa yang dilindungi oleh hukum di Indonesia. Rafflesia arnoldii tumbuhan yang sangat langka dan unik karena tidak memiliki daun, batang atau akar dan bahkan tumbuhan ini tidak memiliki klorofil. Oleh karena itu tumbuhan ini harus hidup sebagai parasit yang menggunakan jaringan tumbuhan merambat Tetrastigma sebagai inangnya untuk mendapatkan nutrisi dan air. Rafflesia arnoldii bukan tumbuhan karnivora, tumbuhan ini sedikit berbau seperti daging busuk hanya untuk menarik perhatian serangga yang kemudian menyerbuki bunga lainnya. Tunas Rafflesia arnoldii butuh berbulan-bulan untuk tumbuh berkembang dan bunganya dapat tetap mekar hingga 14 hari. Rafflesia arnoldii biasanya dapat ditemukan selama musim hujan antara bulan Juni - Desember. Tumbuhan parasit yang sensitif ini tumbuh hanya sekali setahun di hutan hujan tropis primer yang belum terganggu.

Tunas Rafflesia arnoldii perlu berbulan-bulan untuk berkembang
Informasi Sejarah
Rafflesia arnoldii ditemukan oleh Letnan Inggris bernama Sir Thomas Stamford Bingley Raffles yang telah ditunjuk untuk menjabat posisi Gubernur British Bencoolen (saat ini dikenal sebagai Bengkulu) dan ahli botani Inggris Dr. Joseph Arnold ketika mereka tiba di Lubuk Tapi - Bengkulu Selatan pada bulan Mei 1818. Nama kedua orang tersebut - Raffles dan Arnold – kemudian digunakan untuk memberikan nama botani atau ilmiah untuk tumbuhan tersebut. Rafflesia arnoldii sekarang menjadi simbol resmi provinsi Bengkulu.

Lokasi:
Rafflesia arnoldii, bunga terbesar di dunia dapat ditemukan di banyak kawasan dalam hutan Provinsi Bengkulu, biasanya di Kecamatan Taba Penanjung - Kabupaten Bengkulu Tengah (45 km atau 28 mil dari kota Bengkulu) dan di Tebat Monok Kabupaten Kepahiang, di lereng Pegunungan Bukit Barisan yang paling mudah dicapai karena dekat dengan jalan lintas di pertengahan antara kota Bengkulu dan kota Curup. Rafflesia arnoldii juga dapat ditemukan di beberapa lokasi lainnya di provinsi Bengkulu yaitu:
  • Pagar Gunung – Kabupaten Kepahiang.
  • Talang Ulu, pemandian air panas Suban, dan Taba Rena – Kabupaten Rejang Lebong.
  • dan desa Lubuk Tapi, Kabupaten Bengkulu Selatan.

Rafflesia arnoldii raksasa yang langka
Informasi Spesies:
Nama lengkap: Rafflesia arnoldii R.Br.
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Malpighiales
Famili: Rafflesiaceae
Genus: Rafflesia


Jika Anda ingin menggunakan foto-foto dari blog ini, silahkan email ke kurt_reyhans@yahoo.com

Lokasi pengambilan foto di Taba Penanjung dan Tebat Monok, Provinsi Bengkulu. 
Foto oleh Peter Kimball, Jeff Clairmont, dan Adriansyah Putera.


Anda mungkin tertarik untuk membaca:


Ekstra foto Rafflesia arnoldii
Anda butuh keberuntungan untuk melihat Rafflesia yang sangat langka
Bunga terbesar di dunia - Rafflesia arnoldii
Setelah beberapa hari mekar secarah penuh, bunga unik ini mulai membusuk
Tanpa akar dan daun, bagian yang terlihat hanya bunga


Bunga rimba yang eksotis - Rafflesia arnoldii
Kontak: kurt_reyhans@yahoo.com

Friday, November 27, 2015

Traces of British Colonial Presence on Bengkulu Soil

Last updated: Sep 6th 2018


Bencoolen (now Bengkulu) was one of British colonies in Sumatra. The colonial history of Bengkulu covers the history of European settlements from the start of colonization of Bengkulu in 18th century until Bengkulu integration into Indonesia in 1945. Several British colonial era buildings remain in Bengkulu that will give you greater insight into the former British colonial presence in Bengkulu:


The Fort Marlborough - Breathtaking 18th Century Military Fort
Fort Marlborough is the oldest British surviving building in Bengkulu and now a museum. Located on the shore of Tapak Paderi beach in the city of Bengkulu - Indonesia, the Fort Marlborough is an impressive and well-maintained piece of the colonial history of Bengkulu. This star-shaped fort is definitely worth a visit if you are in Bengkulu.

The Fort Marlborough main gate
The construction of the Fort Marlborough began in 1714 after the abandonment of the Fort York. The fort's construction was conducted under the administration of the Governor of British Bencoolen Joseph Collet. Under British control the fort was used as an EIC trading post and a military base to protect British interests on the West Coast of Sumatra. From 1714 to 1945, possession of the fort had changed several times, amongst four different governments: the Kingdom of Great Britain (1714 – 1824), the Kingdom of France (1760), the Kingdom of the Netherlands (1824 – 1942), the Empire of Japan (1942 – 1945), and the Republic of Indonesia (1945 – present). After hundreds of years of continuous military possession, the fort was deactivated in the late 1980s.

Now, the fort serves as a tourist attraction, museum, and research center. The fort is open daily from 8 a.m - 6 p.m, visitor admission is Rp. 5,000 (about US$ 0.33) for adults and Rp 3,000 (about US$ 0.20) for children (Sep 2018). Click here for more information and photos of the Fort Marlborough!. Or click here to show you exact location of the fort on Google Maps!

The Thomas Parr Monument - In Memory of an Assassinated British Bencoolen Governor

The Thomas Parr monument
The city of Bengkulu has a number of British reminders, including the Thomas Parr Monument which locally known as Tugu Thomas Parr or Tugu Bulek (the Round Monument). The monument was established in 1808 by the British government as for the remembrance of the death of an assassinated British governor in Bencoolen, Thomas Parr. 

Thomas Parr was the son of Dublin-born Lieut-Col. John Parr, 20th regiment of foot, and Sarah Walmesley. The Parr administration of Bencoolen (now known as Bengkulu) was only from April 1805 to December 1807. He was assassinated at night by local fighters on December 23rd, 1807 in his home at Mount Felix. The assassination of Governor Parr was a testament to their refusal to accept colonialism and their defense of their land and rights. Governor Parr was buried within the Fort Marlborough at the Ravelin.

This octagon-shaped monument stands on an area of area of 70 square meters (753 sq ft) and it has a height of 13.5 meters (44 feet). The monument is composed of three arched doorways, a doom and six Corinthian columns in reference to ancient Rome and Greece. The monument is very close from Fort Marlborough, no entrance fee.

Location: at the meeting point of Jl. Ahmad Yani and Jl. Mazairi, in front of the Pasar Baru Koto - Bengkulu. Jl. is abbreviation of jalan which in English means street or road, sometimes written as Jln. Click here to find the location of the monument on Google Maps!


The British Cemetery - The Colonists Endured Hard Times and Great Strife in Bencoolen
The graves in the British Cemetery (Indonesian: Makam Inggris) in Bengkulu are pieces of history that will tell us about bitter conditions and experiences linked to the British East India Company and deaths of hundreds of British Bencoolen inhabitants who were affected by the Bencoolen resistance movements and fatal diseases during the British colonial rule in Bencoolen (now known as Bengkulu).

The remains of British residents who once lived and died in Bencoolen
This site, less than a kilometer east of the Fort Marlborough, was selected by British colonial government as a cemetery location not only to host the graves of British soldiers who fell in the vicinity of various Bencoolen battlefields but also to host the graves of British Bencoolen inhabitants who died from malaria and diarrheal diseases. During the 17th and 18th century, several diseases like malaria, cholera and dysentery were major problems in Bengkulu. These diseases killed more British Bencoolen inhabitants in the 18th century than those that died on the battlefields in Bencoolen.

Although hundreds of British inhabitants died and might be buried in the British cemetery, only a total of 53 graves (the BP3 Jambi report records 128 graves) with some of them unmarked can be found in the British cemetery to this day. When the Dutch controlled Bengkulu, after the Anglo-Dutch treaty signed in 1824, the British cemetery was reused by the Dutch colonial rule as a Dutch burial site. Click here for more detailed information and photos of the British Cemetery.

Location: the cemetery is located at Jl. Veteran or Jl. Rejamat, kelurahan Jitra, kecamatan Teluk Segara Bengkulu. Right behind the gereja HKBP (the Batak Protestant church), across from the Bencoolen coffee house. Show the British Cemetery location on Google Maps.

The Robert Hamilton Monument - Telling Stories of a Time Long Gone

About 2 km from the Fort Marlborough, there is another architectural reminder of former British colonial, the Robert Hamilton Monument (Indonesian: Tugu Robert Hamilton).  This monument is one of the oldest surviving buildings built by British colonial government in Bengkulu. The monument was erected to honor and in memory of Captain Robert Hamilton who died on the 15th of December 1793.

In memory of Captain Robert Hamilton
There is an inscription on the monument wall that says,
"Underneath this obelisk are interred 
the Remains of 
CAPTAIN ROBERT HAMILTON 
who died on the 15th of Dec' 1793 
at the Age of 38 Years 
in the Command of the Troops 
and 
Second Member of the Government"

Location: at the meeting point of Jl. M. Hasan and Jl. Iskandar, near the Pasar Tebek cemetery, Pasar Melintang – Bengkulu. Jl. is abbreviation of jalan which in English means street or road, sometimes written as Jln. Show the monument location on Google Maps.


 This article to be continued...

Photos by Adriansyah Putera and Peter Kimball

Monday, October 26, 2015

Benteng Marlborough Yang Impresif

Gerbang utama benteng Marlborough

Terakhir kali di-update: 23 Juli 2023

Saat berkunjung ke kota Bengkulu untuk liburan atau bisnis, ada banyak obyek wisata yang dapat dikunjungi mulai dari pantai-pantainya yang  indah hingga situs-situs bersejarah yang saling berdekatan dan mudah untuk dicapai. Di sudut pelabuhan tua, benteng Marlborough dapat menjadi suatu media bagi para pengunjung untuk lebih mengenal Bengkulu.

Berada di atas sebuah bukit yang berhadapan dengan Samudra Hindia benteng Marlborough merupakan tempat yang menarik untuk dikunjungi. Benteng yang berbentuk bintang ini berdiri sebagai peninggalan penjajahan Inggris. Berawal dari tahun 1714 dengan dinding-dindingnya yang berdiri kokoh hingga sekarang, benteng Marlborough  merupakan sebuah penggalan sejarah yang impresif dan terawat dengan baik, benteng ini memiliki reputasi sebagai benteng terkuat yang dibangun oleh Inggris di timur setelah benteng George di Madras (sebuah kota di India Selatan).  Benteng ini memiliki struktur datar dengan 4 bastion berbentuk segitiga yang dirancang untuk saling melindungi antar bastion, dan dikelilingi oleh parit pertahanan.  Gerbang masuk utama menuju benteng dilindungi oleh sebuah ravelin (bangunan pertahanan berbentuk segitiga yang berada di depan kastil atau benteng). 

Selain terdapat beberapa batu nisan Inggris di bagian ravelin yang menceritakan kisah pilu, benteng ini juga menyimpan beberapa ukiran tua, foto-foto tua, salinan korespondensi resmi  dari masa pemerintahan Inggris di Bengkulu (1714 -1824). Di bagian dalam benteng, Anda dapat melihat beberapa meriam antik VOC Belanda abad ke-18, sebuah terowongan yang terhubung dengan bagian luar benteng dan juga ruang tahanan di mana Belanda pernah beberapa saat memenjarakan  Soekarno (yang di kemudian hari menjadi presiden pertama Indonesia) semasa pengasingan beliau di tahun 1939 – 1942.

Benteng Marlborough - sebuah peninggalan kolonial Inggris
Benteng Marlborough buka setiap hari dari jam 8 pagi hingga jam 6 sore, biaya masuk bagi pangunjung dewasa Rp. 5.000 dan anak-anak Rp. 3.000 per orang (Juli 2023). Benteng Marlborough mudah untuk dicapai, benteng ini terletak di Jl. Ahmad Yani, tepatnya di sebelah kiri pasar Baru Koto dan berhadapan dengan pantai Tapak Paderi. Dari kawasan hotel pantai Panjang, para penganjung bisa naik angkot kuning jurusan Kampung dengan ongkos Rp. 4.000 per orang, atau sekitar 30 menit  jalan kaki untuk sampai ke benteng.

Berwisata ke benteng Marlborough juga memungkinkan para pengunjung untuk menikmati obyek-obyek wisata menarik lainnya yang berada di sekitar kawasan benteng, seperti pantai Tapak Paderi, monumen Thomas Parr, bangunan tua Kampung Cina, dan bangunan residen Inggris yang sekarang digunakan sebagai rumah dinas gubernur Bengkulu. Benteng Marlborough saat ini dianggap sebagai obyek wisata sejarah utama yang menarik wisatawan untuk berkunjung ke kota Bengkulu. Note: beberapa bagian benteng dapat mempengaruhi tingkat aksesibilitas bagi para penyadang cacat.


Sejarah Singkat Benteng Marlborough

Sejarah Awal (1685 – 1714)
Permintaan pasar akan rempah-rempah yang meningkat di Eropa membuat East India Company (EIC) memperluas kegiatannya di timur dan sebagai hasilnya sebuah pos perdagangan “The Honourable East India Company’s Garrison on the West Coast of Sumatra” didirikan di Bencoolen (sekarang Bengkulu) pada tahun 1685 untuk mendapatkan lada. Pada tahun yang sama, perusahaan EIC membangun sebuah benteng kecil yang dinamakan Fort York dan perusahaan ini juga menyediakan kekuatan militer kecil untuk melindungi properti dan pegawai sipil perusahaan. Karena tingginya angka kematian di benteng York yang disebabkan oleh penyakit seperti kolera, malaria dan disentri, serta semakin memburuknya kondisi benteng York, maka pada tanggal 27 Februari 1712, Joseph Collet yang menjabat sebagai Gubernur British Bencoolen dari tahun 1712 hingga 1717, yang juga menjabat sebagai pimpinan the Honourable East India Company’s Garrison on the West Coast of Sumatra, menulis surat kepada Dewan Direksi EIC di London untuk memperoleh izin mendirikan sebuah benteng baru dan merelokasi pos perdagangan. Joseph Collet diizinkan mendirikan sebuah benteng baru di tahun 1714, dan pada tahun yang sama Fort York ditinggalkan. Setelah Fort York ditinggalkan, benteng ini hancur menjadi puing-puing dan tidak bisa bertahan hingga sekarang.

Pembangunan Benteng Marlborough (1714 -1719)
Salah satu meriam VOC Belanda di benteng Marlborough
Di tahun 1714, setelah pengosongan Fort York, pos perdagangan EIC direlokasi dari Fort York ke Carrang (sekitar 2 mil atau 3,2 km dari Fort York) yang sekarang merupakan sebuah kawasan antara Kebun Keling dan Kampung Cina. Di bawah pemerintahan Joseph Collet, EIC mulai membangun sebuah benteng di sebuah situs militer baru yang strategis. Joseph Collet memberi nama benteng baru tersebut Fort Marlborough untuk menghormati John Churchill, duke pertama Marlborough, salah satu jenderal terbesar Inggris, yang memimpin Inggris dan tentara sekutu dalam memperoleh kemenangan penting atas Louis XIV dari Perancis, terutama di Blenheim (1704), Ramillies (1706), dan Oudenaarde (1708).
   
Konstruksi benteng yang berbentuk bintang dengan bastion berbentuk segitiga di setiap sudutnya dimulai tahun 1714 dengan menggunakan tenaga narapidana, penduduk lokal dan tenaga kerja India. Pekerjaan konstruksi di bulan April 1715 sebagian besar terdiri dari konstruksi awal pada dinding-dinding pertahanan yang menggunakan tanah dan batu bata tebal, parit kering, dan platform meriam di atas bastion. Benteng ini memiliki struktur datar terdiri dari empat bastion berbentuk segitiga yang dirancang untuk saling melindungi satu sama lain, yang mana dua dari bastion tersebut mengarah ke Samudra Hindia di sebelah barat, untuk memberikan perlindungan pada area pendaratan di luar benteng. Pembangunan Fort Marlborough yang juga dikenal sebagai Bencoolen garrison sebagian besar selesai dikerjakan di tahun 1719 dan kemudian benteng ini menjadi pusat kekuasaan dan pengaruh Inggris di berbagai bagian pantai barat Sumatera hingga tahun 1824.

Serangan-serangan Terhadap Benteng Marlborough
Pada tahun 1719, benteng Marlborough ditinggalkan oleh warga Inggris karena banyak terjadinya konflik dengan penduduk lokal di pos-pos EIC dan sebuah serangan terhadap benteng Marlborough, konflik juga memaksa penduduk Inggris untuk melarikan diri ke Madras - India. Tidak lama setelah benteng ditinggalkan, penduduk Inggris kembali lagi ke Bencoolen pada tahun 1724 setelah diadakan sebuah perjanjian dengan para penguasa lokal.

Kiri ke kanan: makam Kapt. Rebert Hamilton,
Gubernur Jendral British Bencoolen Thomas Parr,
dan sekretaris Parr - Charles Muray  
Pada tahun 1760, saat Perang Tujuh Tahun, pasukan ekspedisi Perancis di bawah komando Charles Hector, comte d'Estaing merebut benteng Marlborough dan menggunakan benteng ini sebagai basis untuk menyerang dan menundukkan pemukiman-pemukiman Inggris lainnya di pantai barat Sumatera. Sebelum kembali ke Mascarenes Charles Hector menyerahkan kembali benteng Marlborough kepada Inggris dengan imbalan uang tebusan dari pihak Inggris. Sebuah serangan langsung yang dilakukan oleh penduduk lokal terhadap benteng Marlborough terjadi lagi pada tahun 1793, tapi pasukan pertahanan Inggris mampu menghalau serangan tersebut. 

Sebagai konsekuensi dari Anglo-Dutch Treaty of London, yang ditandatangi pada 17 Maret 1824, pemukiman Inggris di wilayah pantai barat Sumatera diserahkan kepada pihak Belanda yang mengakibatkan terjadinya penarikan pasukan East India Company dari benteng Marlborough dan Bencoolen untuk selamanya di tahun 1825. Penyerahan Bencoolen (sekarang Bengkulu) kepada kekuasaan kerajaan Belanda di bawah Perjanjian Anglo-Dutch menandai akhir dari 140 tahun kekuasaan Inggris di Bengkulu.

Benteng Marlborough setelah Inggris Keluar dari Sumatera
Setelah pasukan East India Company pergi, Belanda mulai mengambil kendali benteng Marlborough di tahun 1825. Belanda memperkuat benteng Marlborough dengan 60 serdadu pada tahun 1837. Belanda terus menduduki benteng hingga tahun 1942. Setelah jatuhnya Sumatera ke tangan Jepang, benteng ini kemudian diduduki tentara Jepang dari tahun 1942 hingga 1945. Setelah Jepang menyerah pada tahun 1945 benteng ini kembali diduduki sebentar oleh Belanda, dan kemudian benteng ini digunakan oleh tentara dan polisi Indonesia hingga akhir tahun 1970. Benteng Marlborough direnovasi di akhir tahun 1980-an dan kemudian dibuka untuk umum. Sekarang, benteng Marlborough berfungsi sebagai obyek wisata, museum, dan pusat penelitian.


Glosarium

Bastion adalah sebuah struktur dari benteng atau bangunan pertahanan yang dibangun di sudut garis dinding, yang memungkinkan tembakan pertahanan dapat dilakukan dari beberapa arah.

The East India Company (EIC), dikenal juga dengan the Honourable East India Company (HEIC) atau the British East India Company  merupakan perusahaan persekutuan saham Inggris, dibentuk pada 31 Desember 1600 untuk mengejar perdagangan dengan Hindia Timur (atau sekarang Asia Tenggara Maritim) namun pada akhirnya sebagian besar EIC berdagang dengan subkontinen India dan Qing Cina.

Ravelin adalah fortifikasi segitiga atau bagian luar benteng yang terpisah, terletak di depan interior benteng (dinding tirai dan bestion). Awalnya disebut demi-lune, ravelin ditempatkan di luar sebuah kastil dan di seberang tirai fortifikasi.


Referensi:
Britannica Concise Encyclopedia 
http://en.wikipedia.org/wiki/Fort_Marlborough
http://wftw.nl/bencoolen/bencoolen.html

Jika Anda ingin menggunakan foto-foto yang ada di blog ini silahkan email ke kurt_reyhans@yahoo.com

Foto-foto benteng Marlborough

Barak militer Inggris abad ke-18 di benteng Marlborough
Meriam pertahanan ini dirancang untuk bisa menembak dari celah dinding benteng
terhadap kapal-kapal yang mendekati benteng
Bagian sudut kiri bastion dan ravelin benteng Marlborough
Meriam Belanda buatan tahun 1838 di salah satu bastion 
Pemandangan saat sunset dari tangga bastion
Bastion benteng Marlborough yang berbentuk mata anak panah
Dibangun di atas bukit yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia
Benteng Marlborough, objek wisata sejarah utama
yang mampu menarik wisatawan untuk berkunjung ke Bengkulu
Batu nisan Deputi Gubernur Richard Watts Esq. (meninggal 17 Desember 1705)
yang berada di bagian ravelin
Batu nisan Deputi Gubernur II George Shaw (meninggal 25 April 1704)
yang berada di bagian ravelin

Benteng Marlborough - Berjalan Melewati Waktu

Foto: Adriansyah Putera & Peter Kimball
Kontak: kurt_reyhans@yahoo.com